Rabu, 23 Januari 2013

Suka Duka Anak Rantau


Merantau ke suatu daerah jauh ataupun dekat itu sama saja selagi kita keluar dari rumah dan mencoba hidup di daerah yang baru dalam kurun waktu yang sangat lama. Ada yang sukses ada juga yang kurang beruntung. Yang paling penting keep positive thinking saja karena masalah rejeki itu sudah ada yang ngatur. Tapi bukan berarti kita pasrah dengan keadaan. Memang rejeki sudah ada yang mengatur tapi kita diwajibkan untuk mencari dan menggalinya walaupun sampai ke negeri china sekalipun. Ada pepatah mengatakan "kejarlah cita-citamu sampai ke negeri china" ups salah yang bener "kejarlah ilmu sampai ke negeri china". Hemmmmm tapi pepatah itu juga bermakna luas kok, tidak hanya melulu karena ilmu tapi juga rejeki, cita-cita dan cinta.
Dalam kesempatan ini saya mau berbagi nih tentang pengalaman ketika merantau dan saat ini saya masih dalam perantauan sih. Merantau itu adalah pilihan sih menurut saya pribadi. Sebuah pilihan yang terpaksa harus saya jalani karena kondisi di tempat asal saya yang tidak memungkinkan lagi untuk mendapatkan sesuatu yang saya cita-citakan.
Sejatinya kita dituntut untuk mengembangkan daerah kita masing masing. Tapi karena keterbatasan modal dan kemampuan membuat sesorang itu pergi meninggalkan kampung halamannya dengan harapan agar mendapatkan sesuatu yang di cita-citakan.
Lika liku kehidupan di perantauan sudah pernah saya rasakan. Susah senang, tidak punya uang, sakit ya sendirian, pokoknya serba mandiri deh, beda banget sama di rumah, masih bisa manja - manja sama ortu.
hidup di perantauan memang butuh mental yang kuat, tahan banting dan nyali yang besar dalam mengarungi kehidupan yang lebih keras apa lagi fidup di kota besar seperti jakarta. Jakarta masih menjadi maskotnya para perantau, karena perputaran uang terbesar negara ini berpusat di Ibu Kota. Kerasnya kehidupan di Ibu Kota menjadikan kita bermental baja. Dan mengerti arti sebuah perjuangan. Tapi di sisi lain budaya dan orientasi kita lebih bersifat individualis, egois dan hegemoni semata. Rasa kemusyawaratan makin pudar  karena semua orang hanya sibuk dengan dirinya masing - masing. Inilah realita yang pernah saya alami di Jakarta. Hidup di kota besar memang tidak ada yang gratis, jadi harus pintar-pintar mengatur keuangan agar bisa bertahan. Apalagi dengan banyaknya penduduk di kota besar membuat ruang semakin sempit. Jalanan macet dan lebih parah lagi bencana banjir yang sering terjadi di Jakarta. Tingkat kriminalitas tinggi perampokan, pencurian, dan penipuan sering terjadi di Ibu kota ini. Semua tindak kriminalitas tersebut dilatarbelakangi karena faktor ekonomi. Kejahatan ini banyak dilakukan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah karena keinginan untuk mengikuti gaya hidup yang serba mewah dan mahal menimbulkan niat untuk mencari jalan pintas. Dan juga karena pergaulan yang bisa mempengaruhi ke arah hal-hal yang tidak baik.
Belum lagi tindak kriminal yang lain seperti perkosaan dan tindak asusila yang lain.
Jika kita sudah mantab untuk mengadu nasib di kota besar hendaknya kita mempersiapkan matang-matang sebelum kita berangkat ke tujuan. Ketersediaan lapangan kerja, kepastian pekerjaan, dan ada relasi yang bisa dipercaya. Dan yang paling penting adalah iman yang kuat agar tidak terjebak ke dalam hal - hal yang negatif. Harus yakin bahwa Allah itu tidak akan membiarkan hambanya menderita kecuali hamba itu yang malas berusaha. Keep spirit and always be sure that you can do it.     

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Welcome In Blogging Is My Life

Contoh Sliding Login Dengan JQuery

Disamping ini adalah contoh Sliding Login menggunakan JQuery. Login Form Disamping hanya Contoh dan tidak dapat digunakan layaknya Login Form FB, Karena Blog ini terbuka untuk umum tanpa perlu mendaftar menjadi Member

Tutorial Blog

Untuk membuatnya Silahkan : Klik Disini

Member Login

Lost your password?

Not a member yet? Sign Up!